BANGKU DI BAWAH POHON
Kakiku melangkah di area taman yang jarang dikunjungi orang. Bukan karena tempatnya tidak nyaman, tapi karena kurang cocok untuk menikmati waktu bersama keluarga, karena tidak ada tempat bermain. Taman ini hanya nyaman ditempati untuk orang yang membutuhkan ketenangan atau sejenisnya. Aku duduk di sebuah bangku panjang yang terletak di bawah sebuah pohon rindang. Membuka buku Tere Liye yang baru kubeli dan masih tersampul plastik. Mulai membuka halaman pertama dan membacanya.
Keesokan harinya, sepulang kuliah, aku kembali ke taman untuk membaca buku. Aku suka tempat itu, bisa kubaca buku kesukaan tanpa terganggu kebisingan kendaraan atau orang lain. Tempat itu begitu nyaman dan terasa seperti milikku sendiri karena hampir tidak pernah ada orang lain yang duduk di sana. Setiap sore, aku datang dengan sebuah buku di tangan, membiarkan diriku tenggelam dalam dunia yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang mencintai kata-kata. Itu kulakukan selama berbulan-bulan.
Tapi hari itu, ada seekor monyet, eh maksudku seseorang yang membuat tempat itu berbeda. Seorang laki-laki duduk di bangkuku. Lebih tepatnya, dia menduduki wilayah yang sudah ku klaim dalam diam. Matanya tertuju pada sebuah buku, tidak terganggu sedikit pun dengan kehadiranku. Aku menghela napas pelan dan memilih duduk di sebelahnya. Kalau dia bisa pura-pura tidak peduli, maka aku juga.
Aku membuka bukuku, tapi dari ekor mataku, aku melirik ke arah sampul buku yang sedang dia baca. “Pulang” karya Tere Liye. Aku tersenyum kecil. Sementara dia baru memulai kisah Bujang, aku sudah jauh melampaui itu. Buku yang aku genggam sekarang adalah “Bedebah di Ujung Tanduk”, buku kesekian dari cerita yang sedang dia baca.
“Wah, baca ceritanya Bujang juga? Udah sampai situ?” suaranya tiba-tiba memecah keheningan.
Aku menoleh. Monyet itu, maksudnya, laki-laki itu menatapku dengan antusias.
Aku mengangguk pelan. “Iya, aku udah lumayan jauh. Kamu baru mulai?”
“Baru banget. Aku baru kepo sama Tere Liye. Katanya bukunya bagus,” jawabnya, lalu tersenyum.
Aku memutar bola mata. “Bagus banget, makanya aku udah baca hampir semua bukunya.”
Dia tertawa kecil. “Hebat banget. Kalau gitu, bisa dong jadi guide aku buat baca buku-buku Tere Liye?”
Aku menimbang sebentar, lalu mengangguk. “Bisa sih. Tapi dengan satu syarat.”
“Apa?”
“Jangan duduk di bangkuku lagi.”
Dia menatapku, lalu tertawa lebih keras. “Oke, deal. Tapi kalau aku janji nggak duduk di sini lagi, aku boleh tetap baca bareng kamu, kan?”
Aku pura-pura berpikir lama, padahal dalam hati, aku senang dengan tawarannya. “Hmm... Boleh deh. Asal kamu nggak ganggu aku baca.”
“Sip! Namaku Andra, by the way.”
Aku tersenyum tipis. “Ailin.”
Dan sejak hari itu, bangku di bawah pohon besar itu bukan lagi hanya milikku. Itu menjadi tempat di mana dua orang yang awalnya asing, bertemu dan berbagi dunia mereka lewat kata-kata, cerita, dan kebersamaan yang perlahan menjadi sesuatu yang lebih berarti.
Hari-hari berikutnya, aku mulai terbiasa dengan kehadiran monyet itu, ekhem... maaf, maksudku Andra. Kami bertukar nomor telepon dan sosial media. Dia selalu datang dengan buku yang sama, serial Bujang karya Tere Liye. Ia sering kali bertanya tentang cerita yang sedang dia baca.
“Kira-kira, endingnya Bujang sama Maria atau Padma, ya?”
“Coba saja Yuki dan Kiko baca buku Tere Liye, reaksi mereka gimana,ya?”
“Gila! Ternyata cerita di buku ini berhubungan sama buku yang itu, ya!”
Kadang-kadang, dia juga membawa dua cangkir kopi, satu untuknya dan satu untukku. Katanya sebagai “bayaran” karena aku sudah menjadi pemandunya dalam dunia Tere Liye.
***
Suatu sore, saat aku sedang asyik membaca, monyet itu, Andra, dia tiba-tiba menutup bukunya dan menatapku. “Ailin, aku penasaran. Kenapa kamu suka banget baca buku?”
Aku mengangkat bahu. “Karena buku selalu bisa membawaku ke dunia lain. Dunia yang mungkin lebih tenang, lebih indah, atau bahkan lebih menantang daripada dunia nyata.”
Dia mengangguk pelan, lalu tersenyum. “Berarti, kalau aku ingin mengenal kamu lebih dalam, aku harus baca buku-buku yang kamu suka, ya?”
Aku terkesiap sesaat, lalu tersenyum kecil. “Mungkin. Tapi mengenal seseorang itu lebih dari sekadar membaca buku yang mereka baca.”
Dia tertawa. “Baiklah, kalau gitu aku akan tetap baca dan tetap datang ke sini. Supaya aku bisa terus kenal kamu, Ailin.”
Aku menunduk, menyembunyikan senyum yang tiba-tiba muncul di wajahku. Mungkin, bangku di bawah pohon ini tidak hanya menjadi tempat membaca, tapi juga menjadi tempat di mana cerita baru dimulai.
***
Suatu sore, saat aku tiba di bangku favoritku, Andra sudah ada di sana lebih dulu. Kali ini, dia tidak hanya membawa buku, tapi juga sekotak kecil kue.
Aku mengernyit. “Sejak kapan taman ini jadi tempat piknik?”
Dia menyeringai. “Bukan piknik. Aku cuma kepikiran, kita selalu baca buku bareng, tapi nggak pernah makan bareng. Kayaknya kurang lengkap.”
Aku duduk di sampingnya, memperhatikan kue yang dia bawa. “Terus, aku dapat bagian juga?”
“Tentu saja. Aku nggak mungkin makan sendirian, kan?”
Aku mengambil sepotong kue dan mencicipinya. “Lumayan. Tapi kalau besok kamu bawa lagi, pilih yang cokelat.”
Andra tertawa. “Baik, Nona Pemilih. Aku catat.”
Sejak hari itu, Andra mulai membawa makanan kecil setiap sore. Kadang kue, kadang kopi, bahkan pernah membawa roti buatan ibunya. Kebersamaan kami yang awalnya hanya tentang buku perlahan berkembang menjadi lebih dari itu. Kami mulai berbicara tentang banyak hal, tentang hidup, impian, dan hal-hal kecil yang biasanya tidak aku bagi dengan orang lain.
Suatu hari, saat aku datang lebih dulu dan menunggunya, aku menyadari sesuatu. Bangku ini tidak lagi terasa sama tanpa kehadiran Andra. Aku melihat ke arah jalan setapak, berharap dia segera muncul.
Dan ketika dia akhirnya datang dengan senyum khasnya dan dua cangkir kopi di tangan, aku sadar, mungkin aku sudah jatuh cinta.
***
Malam itu, aku tidak bisa tidur. Aku memikirkan Andra. Perasaan aneh yang menggelitik di dadaku setiap kali dia tersenyum, setiap kali dia menyebut namaku, semakin sulit untuk diabaikan.
Keesokan harinya, aku tiba lebih awal di taman. Aku ingin memastikan sesuatu. Jika aku benar-benar jatuh cinta, aku ingin tahu apakah dia juga merasakan hal yang sama.
Andra datang dengan langkah santai, membawa dua cangkir kopi seperti biasa. Tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Di tangan satunya, dia membawa sebuah buku. Bukan buku Tere Liye, melainkan sebuah buku dengan sampul polos yang terlihat seperti jurnal pribadi.
Aku menatapnya curiga. “Apa itu?”
Dia duduk di sampingku dan menyerahkan buku itu padaku. “Aku nulis sesuatu. Tentang kita. Aku nggak tahu apakah kamu sadar atau nggak, tapi setiap sore di sini... aku semakin yakin kalau aku suka sama kamu.”
Hatiku berdegup kencang. Aku membuka buku itu, melihat halaman-halaman yang dipenuhi tulisan tangannya. Tentang pertemuan pertama kami, tentang bagaimana dia belajar mencintai membaca karena aku, tentang bagaimana taman ini bukan lagi sekadar tempat baca buku baginya, tapi tempat di mana dia menemukan seseorang yang membuat harinya lebih berarti.
Aku menutup buku itu perlahan, menatapnya dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. “Andra... aku suka kamu nulis semua ini,”
“Jadi maksudnya gimana?” dia bertanya dengan wajah bingung.
Aku tersenyum, terlalu malu untuk mengatakan bahwa aku juga menyukainya.
“Kamu suka sama aku juga, kan?” tanyanya dengan wajah tegang.
Aku tersenyum, mengangguk.
Dia tersenyum lega, lalu tanpa ragu menggenggam tanganku. “Jadi, mulai sekarang, kita nggak cuma jadi teman baca buku lagi, ya?”
Aku mengangguk, membiarkan senyumku berkembang. “Mulai sekarang, kita jadi sesuatu yang lebih dari itu.”
Sejak saat itu, pertemuan kami tak hanya saat sore hari di taman, tapi kami sering sekali bertemu di tempat lain seperti mall, cafe, toko buku, dan jalan-jalan berdua menggunakan motornya layaknya pasangan pada umumnya. Namun tetap saja, rutinitas kami tidak pernah berubah, membaca buku di bangku bawah pohon.
***
Hari itu, aku datang lebih awal dari biasanya. Aku duduk di bangku favoritku di bawah pohon besar, memegang buku yang sama seperti kemarin, tapi pikiranku melayang ke tempat lain. Lebih tepatnya, ke seseorang.
Aku mulai menyadari sesuatu belakangan ini—kehadiran Andra sudah menjadi bagian dari rutinitasku, dan setiap sore terasa kurang lengkap tanpanya.
Tak lama, suara langkah kaki yang sudah kukenal mendekat. Aku menoleh, dan di sana dia berdiri, membawa dua cangkir kopi seperti biasa. “Kamu lebih awal hari ini,” katanya sambil tersenyum.
Aku mengangguk. “Lagi pengen menikmati suasana taman lebih lama.”
Dia duduk di sampingku, menyerahkan satu cangkir kopi. Aku menerimanya tanpa banyak bicara. Hari itu, aku merasa ingin mengatakan sesuatu, tapi aku ragu.
Andra membuka bukunya dan mulai membaca. Tapi kali ini, dia sering melirik ke arahku. “Ailin? Kamu kenapa? Biasanya kamu paling heboh kalau cerita tentang buku.”
Aku menghela napas pelan, menatap ke arah daun-daun yang bergoyang diterpa angin. “Andra, menurutmu... sebuah cerita bisa bertahan lama nggak? Maksudku, bukan cuma dalam buku, tapi dalam kehidupan nyata.”
Dia menutup bukunya perlahan dan menoleh ke arahku, matanya penuh perhatian. “Aku percaya kalau cerita bisa bertahan selama kita mau menulis kelanjutannya.”
Aku menoleh padanya, menatap matanya yang penuh ketulusan. “Berarti... kalau kita punya cerita sendiri, kamu bakal tetap ingin menulis kelanjutannya?”
Andra tersenyum, senyum yang selalu berhasil membuat jantungku berdetak lebih cepat. “Tentu saja. Aku nggak mau ceritaku dengan kamu berhenti di sini, Ailin.”
Aku terdiam sejenak, membiarkan kata-katanya meresap ke dalam hatiku. Lalu, dengan keberanian yang entah datang dari mana, aku berkata, “Kalau begitu, ayo kita tulis cerita ini bersama.”
Dan saat itu, di bawah pohon yang menjadi saksi bisu pertemuan kami, cerita kami tak lagi sekadar tentang buku, tapi tentang dua hati yang perlahan mulai saling memahami, saling melengkapi, dan mungkin, saling jatuh cinta.
***
Sudah beberapa bulan sejak percakapan kami di bawah pohon itu, dan semuanya terasa semakin indah. Aku dan Andra semakin dekat, seakan ada benang tak kasat mata yang mengikat kami. Namun, seperti dalam setiap cerita yang bagus, selalu ada konflik yang datang tanpa diundang.
Hari itu, aku datang ke taman lebih awal seperti biasa. Tapi kali ini, ada yang berbeda. Dari kejauhan, aku melihat Andra duduk di bangku favorit kami, tapi dia tidak sendiri. Seorang gadis berdiri di depannya, berbicara dengan ekspresi serius. Aku tidak mengenalnya, tapi ada sesuatu dalam cara mereka berinteraksi yang membuat hatiku berdebar dengan perasaan tak nyaman.
Aku berhenti melangkah, memilih untuk mengamati dari kejauhan. Gadis itu berbicara dengan ekspresi emosional, sementara Andra tampak berusaha menjelaskan sesuatu. Aku tak bisa mendengar apa yang mereka katakan, tapi yang kulihat cukup untuk membuat pikiranku dipenuhi tanda tanya.
Siapa dia? Kenapa dia terlihat begitu mengenal Andra?
Aku ragu untuk mendekat, tapi sebelum aku bisa memutuskan, gadis itu pergi meninggalkan Andra dengan wajah yang sulit diartikan. Aku akhirnya melangkah maju, pura-pura tidak melihat apa yang baru saja terjadi.
“Hai, Andra,” sapaku sambil duduk di sampingnya.
Andra menoleh, tersenyum tipis, tapi matanya tak bisa menyembunyikan kegelisahan. “Hai, Ailin.”
Aku menatapnya, mencoba membaca ekspresinya. “Kamu kenapa? Kelihatan nggak seperti biasanya.”
Dia terdiam sejenak, lalu menggeleng. “Nggak apa-apa. Cuma ada sesuatu yang harus aku selesaikan.”
Aku menggigit bibir, ragu apakah harus menanyakannya lebih lanjut atau tidak. Tapi rasa penasaran dan kecemasan dalam hatiku tak bisa diredam.
“Siapa tadi?”
Andra menarik napas dalam, lalu menatapku. “Dia... seseorang dari masa lalu yang tiba-tiba datang lagi.”
Hatiku mencelos. Masa lalu? Aku menelan ludah, berusaha menenangkan diri.
“Seseorang yang penting?”
Andra menatapku dalam-dalam, lalu tersenyum kecil, tapi kali ini senyumnya terasa berbeda. “Dulu iya. Sekarang... aku nggak tahu lagi.”
Aku mengangguk pelan, meskipun hatiku masih dipenuhi pertanyaan. Entah kenapa, perasaan yang selama ini terasa indah dan ringan mulai berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit. Dan untuk pertama kalinya sejak aku bertemu Andra, aku merasa takut kehilangan cerita yang sedang kami tulis bersama.
***
Sejak hari itu, ada sesuatu yang berubah. Andra masih datang ke taman seperti biasa, masih membawa dua cangkir kopi untuk kami, masih membaca buku di sampingku. Tapi kami jarang bertemu diluar waktu itu. Paling Andra menjemputku untuk ke toko buku.
Aku tidak pernah bertanya tentang wanita itu lagi, dan dia juga sepertinya tidak berniat untuk membahasnya. Aku melihat ada sesuatu yang berbeda dalam tatapannya, dalam caranya tersenyum, dalam caranya menghela napas setiap kali aku menatapnya terlalu lama.
Aku pura-pura tidak menyadari. Aku tetap bercerita seperti biasa, tetap tertawa seperti biasanya. Tapi di dalam hatiku, aku tahu ada yang tidak beres.
Hingga akhirnya, hari itu tiba.
Aku datang ke taman lebih awal dari Andra, ingin menenangkan pikiran. Tapi baru saja aku duduk, suara langkah kaki terdengar mendekat. Aku menoleh dan menemukan gadis yang tempo hari berbicara dengan Andra sedang berdiri di depanku.
“Kamu Ailin, kan?” suaranya terdengar lembut, tapi ada ketegangan yang tersirat dalam nada bicaranya.
Aku mengangguk, berusaha tetap tenang. “Iya. Kamu siapa?”
Gadis itu menarik napas dalam sebelum akhirnya berkata, “Aku Ayla. Aku mantannya Andra.”
Hatiku mencelos. Napasku terasa berat. Aku menatapnya tanpa berkata apa-apa.
“Aku nggak mau berbohong sama kamu,” lanjutnya. “Aku dan Andra punya banyak kenangan di tempat ini. Bangku ini... pohon ini... semuanya. Aku nggak tahu apakah dia pernah cerita sama kamu, tapi dulu, tempat ini adalah tempat kami.”
Aku mencengkeram buku di tanganku lebih erat. “Jadi kenapa kamu cerita ini ke aku?”
Ayla tersenyum miris. “Karena aku mau dia kembali. Aku mau mengembalikan cerita yang sempat terhenti. Dan aku ingin kamu tahu itu sebelum semuanya terlambat.”
Jantungku berdebar kencang. Aku ingin menyangkal, ingin tertawa dan mengatakan bahwa semua itu tidak akan terjadi. Tapi di dalam hatiku, ada ketakutan yang mulai tumbuh. Apakah selama ini aku hanya menempati tempat yang seharusnya bukan untukku? Apakah aku hanya sekadar bagian dari cerita Andra yang belum selesai?
Aku tidak tahu. Yang kutahu hanyalah... ini sakit.
Aku duduk diam di bangku taman, angin sore yang biasanya terasa menenangkan kini justru membuat dadaku sesak. Kata-kata Ayla terus terngiang di kepalaku. “Aku mau dia kembali.”
Apa benar selama ini aku hanya pengganti? Apa benar Andra belum sepenuhnya melupakan Ayla? Gadis itu bercerita tentang hubungannya dengan Andra yang berakhir beberapa tahun lalu. Alasan mereka putus adalah karena salah paham, ada orang yang tidak menyukai hubungan mereka dan menjadi perusak. Aku tak ingin menceritakan kembali bagaimana kisahnya, karena aku tak ingin melepaskan Andra.
Aku menggigit bibir, mencoba menahan air mata yang mulai menggenang. Aku ingin menunggu Andra, ingin mendengar penjelasannya. Tapi sebelum aku bisa memutuskan, suara yang begitu familier menyapaku.
“Ailin...”
Aku menoleh. Andra berdiri di sana, menatapku dengan wajah yang sulit diartikan. Ada keterkejutan di matanya saat melihat Ayla masih berdiri tak jauh dari tempatku.
“Kamu udah ketemu Ayla,” katanya pelan.
Aku mengangguk, berusaha tetap tenang. “Iya. Dia cerita banyak.”
Andra terdiam. Aku menatapnya, mencoba mencari jawaban di matanya. “Andra... apa benar kamu masih sayang sama dia?”
Dia menatapku, lalu menunduk. Hening. Jawaban yang kutakutkan ada di sana, dalam diamnya.
Dadaku terasa semakin sesak. “Kenapa kamu nggak pernah cerita kalau tempat ini... adalah tempat kalian dulu? Kenapa kamu membiarkan aku percaya kalau aku bagian dari sesuatu yang baru, padahal mungkin aku cuma mengulang cerita lama yang belum selesai?”
Andra menghela napas, lalu duduk di sampingku. “Aku pikir... aku sudah bisa move on. Aku pikir cerita lama itu udah selesai. Tapi ternyata, waktu Ayla datang lagi... aku sadar kalau perasaanku belum sepenuhnya hilang.”
Hatiku remuk. Aku ingin marah, ingin berkata bahwa ini tidak adil. Tapi aku terlalu lelah untuk itu.
Aku menguatkan diri, menatap Andra dalam-dalam. “Kalau begitu, kamu harus memilih, Andra. Aku atau dia. Aku nggak mau ada di tengah cerita yang nggak jelas akhirnya.”
Andra menatapku, ragu. Dan di situlah aku tahu jawabannya.
Dia tidak bisa memilih.
Dan itu lebih menyakitkan daripada jika dia langsung memilih Ayla.
Aku menatap Andra, menunggu sesuatu yang mungkin tidak akan pernah datang. Jawaban. Tapi yang kutemukan hanyalah keheningan. Dia menunduk, menggenggam tangannya sendiri, seakan sedang berperang dengan pikirannya sendiri.
“Andra...” suaraku lirih, hampir tak terdengar. “Aku atau dia?”
Dia mengangkat wajahnya, menatapku dengan mata yang penuh kebingungan dan rasa bersalah. “Aku... aku nggak tahu, Ailin. Aku sayang sama kamu, tapi aku juga nggak bisa bohong kalau bagian dari diriku masih ada di masa lalu bersama Ayla. Aku nggak bisa memilih.”
Hatiku mencelos. Aku tahu jawaban ini akan menyakitkan, tapi mendengarnya langsung dari Andra membuat luka itu terasa lebih nyata. Aku mengalihkan pandanganku, menahan napas agar air mataku tidak jatuh.
Ayla yang sejak tadi diam, kini berbicara. “Andra, kamu nggak bisa terus kayak gini. Kamu nggak bisa terus-terusan menggantung dua orang yang sama-sama tulus sama kamu.”
Aku menatap Ayla, dan untuk pertama kalinya, aku melihat sorot mata yang sama sepertiku, seseorang yang juga terluka, seseorang yang juga berharap lebih.
Andra mengusap wajahnya frustasi. “Aku takut kehilangan kalian berdua. Kalian berdua sama-sama berharga buat aku. Aku nggak mau menyakiti siapapun.”
Aku menghela napas, menatap langit sore yang mulai gelap.
Aku ingin bertahan, ingin memperjuangkan perasaan ini.
Tapi apakah bertahan dalam ketidakpastian adalah hal yang benar?
Apakah aku harus tetap di sini, menunggu seseorang yang bahkan tidak tahu apakah aku yang benar-benar dia inginkan?
Dan di saat itu, aku sadar.
Cinta seharusnya tidak seperti ini. Cinta seharusnya bukan sesuatu yang membuatku merasa ragu akan diriku sendiri.
Aku berdiri perlahan, menguatkan hatiku. “Kalau kamu nggak bisa memilih, biar aku yang pergi.”
Andra terkejut, begitu juga Ayla. “Ailin, tunggu.... “
Aku menggeleng, tersenyum pahit. “Aku sayang kamu, Andra. Tapi aku juga harus sayang sama diriku sendiri. Aku nggak bisa terus berada dalam cerita yang nggak pasti akhirnya.”
Tanpa menunggu jawaban, aku melangkah pergi, meninggalkan bangku di bawah pohon yang dulu begitu berarti untukku. Setiap langkah terasa berat, tapi aku tahu, ini adalah langkah yang harus kuambil.
Karena terkadang, cinta bukan hanya tentang bertahan. Tapi juga tentang tahu kapan harus melepaskan.
Langkahku menjauh dari bangku di bawah pohon itu, meninggalkan Andra dan Ayla dalam kebisuan. Hatiku terasa berat. Aku pikir, saat aku pergi, Andra akan mengejarku. Aku berharap dia akan menarik tanganku, menahanku, meyakinkanku bahwa akulah satu-satunya pilihannya.
Tapi nyatanya, tidak ada langkah kaki yang mengikutiku. Tidak ada suara yang memanggil namaku.
Aku menoleh sekilas. Andra masih duduk di bangku itu, kepalanya tertunduk, sementara Ayla duduk di sampingnya, menggantikanku.
Aku berjalan keluar dari taman, udara sore terasa lebih dingin daripada biasanya. Aku menangis, aku tidak bisa menahannya.
Sepertinya, cerita yang kami tulis bersama berakhir sampai disini.
Aku ingin menghapus semua kenangan, tapi aku tahu itu tidak akan mudah.
***
Hari-hari setelahnya terasa hampa. Bangku di bawah pohon itu masih ada, tapi aku tidak pernah lagi mendekatinya. Aku melewati taman itu beberapa kali, dan sesekali aku melihat Andra duduk di sana sendirian, tatapannya kosong, seakan ada sesuatu yang hilang.
Aku tidak tahu apa yang terjadi antara dia dan Ayla setelah aku pergi. Aku tidak ingin tahu. Yang kutahu hanyalah, aku memilih untuk tidak lagi menunggu jawaban yang tidak pernah pasti.
Suatu sore, saat aku berjalan melewati rak-rak buku di toko buku favoritku, aku melihat novel Tere Liye yang baru saja terbit. Aku tersenyum pahit. Dulu, aku dan Andra selalu menantikan buku baru bersama. Tapi sekarang, aku harus membaca cerita ini sendirian.
Dan mungkin, itu tidak seburuk yang kupikirkan.
Karena meskipun hatiku masih sakit, aku tahu aku akan baik-baik saja.
Penulis : Linda Nurul Hidayah
Sumber foto : pinterest
Post a Comment